Nama mandiri) atau kepada konsulen langsung. Kasus

Nama               :
dr. Risang Bagaskoro

NPM               :
1506817313

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Pembimbing    : dr. Irwan Ramli, Sp.Rad (K) Onk.Rad

 

Refleksi Diri

 

Saat ini saya bertugas di poli umum 2
sebagai PPDS magang (garis kuning) yang mempunyai kompetensi untuk memeriksa
pasien dengan diagnose terbanyak di poliklinik, yaitu pasien dengan keganasan
kepala leher, paling banyak kami temui adalah pasien dengan kanker nasofaring
dan sinonasal. Dalam melayani pasien, kami diwajibkan untuk lapor kepada DPJP
kami dalam waktu 1×24 jam. Laporan bisa dalam bentuk laporan kasus pagi, ronde
besar, dan counter sign DPJP. Jika kami mendapatkan kasus sulit atau kasus
biasa dengan penyulit, kami dapat konsul kepada senior poli (PPDS mandiri) atau
kepada konsulen langsung. Kasus yang saya temui adalah pasien dengan kanker
laring. Kanker laring merupakan
keganasan yang tumbuh pada pada daerah laring. Laring dibentuk oleh tulang
hyoid pada daerah atas dan beberapa tulang rawan (kartilago krikoid dan tiroid)
dan diikat oleh otot. Laring berfungsi membantu pernapasan dan fungsi bicara. Kanker
laring dapat menyerang siapa saja, namun memiliki risiko lebih tinggi pada pria
(empat kali lebih berisiko daripada wanita) dan lansia di atas 60 tahun.

Gejala-gejala Kanker Laring

Lebih dari 90% dari karsionma laring disebbakan
oleh mutasi sel skuamus dengan derajat diferensiasi yang berbeda. Keluhan yang
dirasakan pasien bervariasi, tergantung dari ukuran dan lokasinya. Beberapa
gejala yang umum terjadi meliputi:

§ 
Perubahan suara, sering dikeluhkan suara pasien menjadi serak,
lama-lama menghilang.

§ 
Benjolan di leher, sering nyeri.

§ 
Sakit di tenggorokan, terutama jika menelan

§ 
Batuk yang tidak kunjung sembuh.

§ 
Tenggorokan serasa ada yang mengganjal.

§ 
Bau mulut..

§ 
Telinga terasa sakit, kadang dirasa penuh, kurang pendengaran.

 

Etiologi dan Faktor Risiko
Kanker Laring

Penyebab utama kanker laring masih belum dapat
ditentukan saat ini, namun diduga ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan
risiko kanker laring, seperti :

§ 
Merokok

§ 
Konsumsi akohol secara berlebih.

§ 
Riwayat keluarga yang menderita kanker

§ 
Riwayat pekerjaan dengan risiko terpapar debu atau zat kimia,
misal bekerja di pabrik zat kimia tanpa memakai masker yang memadai atau
asbestosis.

 

Diagnosis dan Stadium Kanker
Laring

Diagnosa utama kanker laring adalah dengan
biopsy, namun dengan anamnesa+pemeriksaan fisik+pemeriksaan penunjang akan
membantu penegakkan diagnose. Pemeriksaan yang dapat dilakukan :

§ 
Anamnesa dan pemeriksaan fisik, meliputi perjalanan penyakit,
riwayat pekerjaan, faktor risiko yang mungkin ada saat ini

§ 
Laringoskopi atau endoskopi (dilakukan oleh TS THT)

§ 
Pemeriksaan histopatologi dari jaringan biopsy sebagai gold standard

§ 
Pemeriksaan radiologi khusus seperti CT,
MRI, dan PET-CT scan (berperan untuk mengetahui seberapa
luas infiltrasi tumor dan apakah ada metastasis jauh)

§ 
USG leher untuk menilai KGB jika tidak ada CT atau MRI.

Penegakkan stadium kanker laring dibagi
berdasarkan lokasinya (UICC) yaitu supraglottis, glottis, dan subglottis. Pada kasus dimana tumor masih berukuran kecil (T1) dan belum ada penyebaran
ke KGB regional (N0) memiliki prognosis yang paling baik. Semakin besar ukuran
tumor dan semakin luas penyebarannya, semakin buruk prognosisnya. Selain itu,
semakin cepat perkembangan tumor, semakin buruk juga prognosisnya.

Pengobatan Kanker Laring

Saat ini penanganan
kanker laring terbagi menjadi tiga modalitas, yaitu operasi, kemoterapi, dan
radioterapi. Tindakan yang diambil oleh dokter sesuai dengan stadium kanker
laring itu sendiri. Pada kasus stadium awaloperasi pengangkatan tumor atau
radiasi saja dinilai cukup. Sedangkan pada kasus dengan stadium lanjut,
dibutuhkan kombinasi dari ketiga modalitas.

Pada stadium awal,
operasi cukup dilakukan dengan prosedur endoskopi. Sedangkang pada kasus
lanjut, operasi lebih radikal (laringektomi) akan dilakukan. Prosedur laringektomi
ini terbagi dalam 2 jenis, yaitu:

§ 
Laringektomi parsial. Hanya sebagian pita suara pasien yang akan
diangkat dalam operasi ini sehingga diharapkan pasien masih mampu bicara,
walaupun suara akan menjadi pelan atau serak.

§  Laringektomi total. Operasi ini dilakukan
pada kasus kanker laring stadium lanjut, dimana seluruh kotak suara dan KGB di
sekitarnya akan diangkat. Kemampuan bicara pasien akan hilang dan menyisakan
lubang permanen (stoma) pada leher pasien untuk membantu pernapasan. Sehingga
dibutuhkan penjelasan kepada pasien dengan baik agar pasien mengerti risiko dan
efek samping yang mungkin muncul jika menjalani operasi laringektomi. Namun, dengan perkembangan teknologi saat ini,
dimungkinkan pasien kanker laring yang menjalani operasi laringektomi untuk
dapat bicara kembali dengan memasang suatu katup artifisial pengganti pita
suara serta
menjalani rehabilitasi dengan ahli terapi wicara (vocal rehabilitation).

 

Pencegahan Kanker Laring

Karena
penyebab utama kanker belum diketahui, yang dapat kita lakukan adalah
mengurangi faktor risiko penyebab kanker, seperti dengan
berhenti merokok dan membatasi konsumsi minuman beralkohol. Batas konsumsi
minuman beralkohol sesuai yang dianjurkan, dalam sehari adalah 2 hingga 2,5
kaleng bir berkadar alkohol 4,7 persen untuk pria, dan maksimal 2 kaleng bir
berkadar alkohol 4,7 persen untuk wanita. Selain itu disarankan untuk cek rutin
kesehatan, enyahkan asap rokok, rajin olahraga, diet seimbang, istirahat cukup,
dan kelola stress (CERDIK) dapat membantu pencegahan kanker laring serta
berbagai penyakit lainnya.