Jeni kemampuan literasi siswa laki-laki dan perempuan

 

Jeni Erlinda1

Email: [email protected]

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Endah Tri Priyatni2

Email: [email protected]

Universitas Negeri Malang, Jalan Semarang 5 Malang

 

ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tingkat literasi siswa laki-laki dan perempuan kelas VII SMP Negeri 4 Malang. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif kuantitatif. Teknik pengumpulan data dilakikan dengan menggunakan tes kemampuan literasi. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap pengumpulan data, pemberian skor, dan pengolahan data yang terkumpul dengan mencari skor rata-rata. Hasil penelitian ini meliputi tingkat kemampuan literasi siswa laki-laki dan perempuan pada aspek (1) merangkum teks, (2) membandingkan teks dan membahasakan tabel, (3) memberikan solusi, (4) membuat tampilan visual, (5) skor total.

Kata Kunci: tingkat literasi, perbedaan gender

ABSTRACT: This study aimed to describe the level of literacy of students male and female class VII SMP Negeri 4 Malang. This research was descriptive quantitative. Data collection techniques using literacy skills test. Activity data analysis starts from the stage of data collection, scoring, and processing data collected by finding the average score. The results of this study include the student’s level of literacy skills of men and women on the aspects (1) summarizes the text, (2) compare the text and express tables, (3) provide a solution, (4) create a visual display, (5) total score.

Keywords: literacy levels, gender differences.

Dengan bertambahnya kemajuan ilmu pengetahuan, literasi dianggap suatu hal yang penting dalam menyeimbangkan kemajuan teknologi dan informasi. Dibandingkan negara lain, kemampuan literasi siswa Indonesia masih tergolong rendah. Dari hasil studi Progremme for International Student Assesment (PISA) tahun 2015 tentang kemampuan membaca siswa menyebutkan bahwa kemampuan membaca siswa Indonesia pada 2015 menduduki urutan ke-67 dari 72 negara yang diteliti di dunia. Dibandingkan tahun 2012 kemampuan membaca siswa Indonesia mengalami kenaikan. Pada tahun 2012 kemampuan membaca siswa Indonesia menduduki urutan ke-64 dari 65 negara yang diteliti di dunia. Berdasarkan beberapa penelitian menyebutkan bahwa kemampuan membaca siswa laki-laki lebih rendah dibandikan kemampuan membaca siswa perempuan. Hal ini dikarena siswa laki-laki cenderung malas untuk melakukan kegiatan membaca dibandikan dengan siswa perempuan.

Studi PISA (Programme for International Student Assessment) menunjukkan adanya perbedaan pencapaian literasi antara laki-laki dan perempuan, di mana perempuan mengungguli pria dalam kemampunan membaca. Secara umum, di semua negara terkecuali di Liechtenstein, perempuan memperoleh nilai lebih unggul dibanding laki-laki dan di Indonesia memperlihatkan perbedaan pencapaianyang cukup tinggi untuk kemampuan membaca siswa laki-laki dan siswa perempuan.

Berdasarkan beberapa penjelasan mengenai kemampuan literasi peneliti bermaksud untuk mengetahui tingkat kemampuan literasi siswa kelas VII SMP Negeri 4 Malang dengan populasi lebih sedikit yaitu kelas VII SMP. Suyono (2009:204) yang menyatakan bahwa inti dari literasi adalah kegiatan membaca-berpikir-menulis. Pada umumnya, kemampuan literasi mencakup empat aspek kemampuan berbahasa, diantaranya kemampuan membaca, kemampuan menulis, kemampuan menyimak, dan kemampuan berbicara. Namun, pada penelitian ini dikhususkan pada inti literasi yaitu membaca, berpikir, dan menulis.

Sesuai dengan pendapat Suyono (2009:204) yang menyatakan bahwa inti dari literasi adalah kegiatan membaca-berpikir-menulis.Menurut Nurchasanah (2015:8), membaca dapat dikatakan sebagai proses pengolahan bacaan secara kritis dan kreatif dengan tujuan untuk memperoleh pemahaman secara menyeluruh dan mendalam tentang teks yang dibaca. Sedangkan Nurhadi (2009:19) menyatakan bahwa berpikir kritis adalah proses berpikir untuk dapat menganalisis apa yang dimaksudkan di balik informasi yang tersurat, misalnya untuk menarik kesimpulan, atau menemukan implikasi, mengevaluasi, dan memberikan penilai terhadap masalah yang dihadapi. Menurut Tarigan (1986:3) menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa yang digunakan untu beromunikasi secara tidak langsung, tidak secara tatap muka dengan orang lain.

Penelitian yang terkait dengan penelitian ini pernah dilakukan sebelumnya yaitu penelitian yang berjudul Pemetaan Kemampuan Literasi Dasar Siswa SMP/MTs Kecamatan Kanigoro Kabupaten Blitar oleh Lestari (2016). Penelitian tersebut mendeskripsikan tentang pemetaan kemampuan literasi dasar pada siswa SMP. Hasil penelitian bahwa kemampuan literasi dasar siswa SMP/MTs Kecamatan Kanigoro Kabupaten Blitar masuk dalam klasifikasi baik. Peneltian lain yang terkait dengan penelitian ini yaitu penelitian yang berjudul Hubungan Kemampuan Literasi dengan Hasil Belajar Siswa Kelas V di SDN Bunulrejo 3 Malang oleh Puspitasari (2015). Penelitian tersebut mendeskripsikan tentang hubungan kemampuan literasi dengan hasil belajar siswa pada jenjang Sekolah Dasar. Hasil penelitian bahwa kemampuan literasi yang dimiliki siswa jenjang Sekolah Dasar memiliki pengaruh terhadap prestasi siswa pada jenjang Sekolah Dasar.

Secara umum penelitian ini memiliki tujuan, yaitu untuk mendeskripsikan tingkat literasi siswa laki-laki dan perempuan kelas VII SMP Negeri 4 Malang. Secara khusus, tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan tingkat literasi siswa laki-laki dan perempuan pada kegiatan (1) merangkum teks, (2) membandingkan teks dan membahasakan tabel, (3) memberikan solusi, (4) membuat tampilan visual, dan (5) berdasarkan skor total.

METODE

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif. Sedangkan jenis penelitian ini adalah deskriptif. Penerapan metode deskriptif bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai tingkat kemampuan literasi siswa laki-laki dan siswa perempuan kelas VII SMP Negeri 4 Malang. Pemerolehan informasi dan data dijelaskan apa adanya sesuai dengan fakta di lapangan.

Populasi dalam penelitian ini,  yaitu siswa SMP Negeri 4 Malang kelas VII sebanyak 7 kelas dengan jumlah siswa untuk setiap kelas sebanyak 32 siswa. Sampel pada penelitian ini adalah dua kelas yaitu kelas VII-C dan kelas kelas VII-F yang setiap kelasnya terdiri dari 30 siswa, yaitu 15 siswa perempuan dan 15 siswa laki-laki. Teknik yang digunakan dalam pengambilan sampel ada purposif sampling. Ini terjadi karena populasi diambil disesuaikan dengan tujuan penelitian.

Instrumen yang digunakan pada penelitian ini adalah tes literasi, yaitu (1) merangkum teks, (2) membandingkan teks, (3) membahasakan tabel, (4) memberikan solusi, (5) membuat tampilan visual. Hasil kerja siswa dianalisis dengan pedoman pada rubrik penilaian.

Sumber data pada penelitian ini adalah tes kemampuan literasi siswa kelas VIIC dan VIIF SMP Negeri 4 Malang. Data yang dianalisis dalam penelitian ini meliputi (1) hasil kerja siswa dari aspek merangkum teks, (2) hasil kerja siswa dari aspek membandikan dua teks, (3) hasil kerjacsiswa dari aspek membahasakan tabel, (4) hasil kerja siswa dari aspek memberikan solusi, dan (5) hasil kerja siswa dari aspek membuat tampilan visual. 

Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan tes tulis. Tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes kemampuan literasi siswa SMP dengan aspek sebagai berikut (1) merangkum teks, (2) membandingkan dua teks, (3) membahasakan tabel, (4) memberikan solusi, dan (5) membuat tampilan visual.

Teknik analisis data yang digunakan, yaitu (1) mengelompokkan data berdasarkan kegiatan pada setiap level literasi, (2) menganalisis hasil tes sisea berdasarkan pedoman penilaian, (3) memberikan skor pada tiap-tiap kegiatan, (4) menjumlahkan skor setiap kegiatan untuk mendapatkan skor total kemampuan literasi, (5) memberikan penilaian dengan rentang skor 0-100% untuk kemampuan literasi total siswa pada setiap peringkat sekolah dengan menggunakan rumus, (6) menentukan skor kemampuan literasi siswa berdasarkan tabel kategori tingkat kemampuan literasi sebagai berikut.

HASIL

Berdasarkan tujuan penelitian, dipaparkan hasil penelitian, yaitu (1) perbandingan tingkat kemampuan literasi siswa laki-laki dan perempuan kelas VII SMP Negeri 4 Malang pada kegiatan merangkum, (2) perbandingan tingkat kemampuan literasi siswa laki-laki dan siswa perempuan kelas VII SMP Negeri 4 Malang pada kegiatan membandingkan teks dan membahasakan tabel, (3) perbandingan tingkat kemampuan literasi siswa laki-laki dan siswa perempuan kelas VII SMP Negeri 4 Malang pada kegiatan memberikan solusi, dan (4) perbandingan tingkat kemampuan literasi siswa laki-laki dan siswa perempuan kelas VII SMP Negeri 4 Malang pada kegiatan membuat tampilan visual, (5) perbandingan tingkat literasi siswa laki-laki dan siswa perempuas kelas VII SMP Negeri 4 Malang. Berikut paparannya.

Pertama, perbandingan tingkat kemampuan literasi siswa laki-laki dan siswa perempuan kelas VII SMP Negeri Malang pada kegiatan merangkum teks, yakni siswa laki-laki dan perempuan sama-sama berada pada kategori baik. Rata-rata yang diperoleh siswa laki-laki, yakni 13,9 dari skor total 16.  Presentase pencapaian siswa laki-laki sebesar 86%. Sedangkan rata-rata yang diperoleh siswa perempuan, yakni 14,9 dari skor total 16. Presentase pencapaian siswa perempuan sebesar 93%.

Kedua, perbandingan tingkat kemampuan literasi siswa laki-laki dan perempuan pada kegiatan membandingkan teks dan membahasakan tabel, yaitu siswa laki-laki termasuk dalam kategori menengah ke bawah dan siswa perempuan termasuk dalam kategori menengah ke atas. Rata-rata yang diperoleh siswa laki-laki, yakni 11,33 dari skor total 23. Presentase pencapaian siswa laki-laki sebesar 49%. Rata-rata yang diperoleh siswa perempuan, yakni 16 dari skor total 23. Presentase pencapaian siswa perempuan sebesar 69%.

Ketiga, perbandingan tingkat kemampuan literasi siswa laki-laki dan perempuan pada kegiatan memberikan solusi, yaitu siswa laki-laki termasuk dalam kategori kurang dan kemampuan literasi siswa perempuan pada kegiatan memberikan solusi, termasuk dalam  kategori menengah ke bawah. Rata-rata yang diperoleh siswa laki-laki, yakni 8,37. Presentase pencapaian siswa laki-laki sebesar 36%. Rata-rata yang diperoleh siswa perempuan, yakni 11,82 dari skor total 23. Presentase pencapaian siswa perempuan sebesar 51%.

Keempat, perbandingan tingkat kemampuan lietrasi siswa laki-laki dan perempuan pada kegiatan membuat tampilan visual, yakni siswa laki-laki dan perempuan termasuk dalam kategori kurang. Rata-rata yang diperoleh siswa laki-laki, yakni 3,87 dari skor total 15. Presentase pencapian siswa laki-laki sebesar 25%. Rata-rata yang diperoleh siswa perempuan, yakni 4,87 dari skor total 15. Presentase pencapaian siswa perempuan sebesar 32%.

Kelima, perbandingan tingkat literasi berdasarkan skor total yang diperoleh siswa laki-laki dan perempuan termasuk dalam kategori menengah. Siswa laki-laki kelas VII SMP Negeri 4 Malang termasuk dalam tingkatan literasi menengah ke bawah. Hal ini dilihat dari skor rata-rata yang diperoleh siswa laki-laki dalam mengerjakan tes literasi, yakni 47,78 dari skor total 100. Untuk presentase siswa laki-laki yang masuk dalam kategori menengah sebesar 50% dan yang masuk  kategori rendah sebanyak 30%. Sedangkan siswa perempuan kelas VII SMP Negeri 4 Malang termasuk dalam tingkatan literasi menengah ke atas. Hal ini dilihat dari skor rata-rata yang diperoleh siswa perempuan dalam mengerjakan tes literasi, yakni 61,27 dari skor total 100. Untuk presentase siswa perempuan yang masuk dalam kategori menengah sebanyak 56,67% dan yang masuk kategori tinggi sebanyak 33,33%.

PEMBAHASAN

Pembahasan penelitian ini meliputi: (1) perbandingan tingkat kemampuan literasi siswa laki-laki dan perempuan kelas VII SMP Negeri 4 Malang pada kegiatan merangkum, (2) perbandingan tingkat kemampuan literasi siswa laki-laki dan siswa perempuan kelas VII SMP Negeri 4 Malang pada kegiatan membandingkan teks dan membahasakan tabel, (3) perbandingan tingkat kemampuan literasi siswa laki-laki dan siswa perempuan kelas VII SMP Negeri 4 Malang pada kegiatan memberikan solusi, dan (4) perbandingan tingkat kemampuan literasi siswa laki-laki dan siswa perempuan kelas VII SMP Negeri 4 Malang pada kegiatan membuat tampilan visual, (5) perbandingan tingkat literasi siswa laki-laki dan siswa perempuas kelas VII SMP Negeri 4 Malang. Berikut paparannya.

Perbandingan Tingkat Kemampuan Literasi Siswa Laki-Laki dan Perempuan pada Kegiatan Merangkum Teks

Kegiatan merangkum termasuk dalam kategori memahami dengan proses koknitif  merangkum. Anderson dan Krathwohl (2010:110) menjelaskan bahwa proses koknitif merangkum terjadi ketika siswa mengemukakan satu kalimat yang mempresentasikan informasi yang diterima atau mengabstraksikan sebuah tema. Merangkum melibatkan proses membuat ringkasan informasi. Dalam mengukur kemampuan merangkum teks siswa laki-laki dan siswa perempuan kelas VII SMP Negeri 4 Malang teks yang digunakan, yaitu teks yang berjudul Manfaat Belajar saat Subuh. Pada penilaian tes merangkum siswa diminta untuk menemukan ide pokok pada teks bacaan dan kemudian menyusun ide pokok tersebut menjadi sebuah rangkuman. Martutik (2013: 127) menjelaskan bahwa ide pokok merupakan bagian yang penting dalam bacaan. Oleh karena itu, kemampuan menemukan ide pokok perlu dilatihkan. Pada hasil penelitian, terlihat bahwa siswa laki-laki dan siswa perempuan sudah bisa dalam menemukan ide pokok.

Perbandingan Tingkat Kemampuan Literasi Siswa Laki-Laki dan Perempuan pada Kegiatan Membandingkan Teks dan Membahasakan Tabel

Kegiatan membandingkan dalam taksonomi Bloom termasuk dalam kategori memahami. Anderson dan Krathwohl (2010:113) menjelaskan bahwa proses kognitif membandingkan melibatkan proses mendeteksi persamaan dan perbedaan antara dua atau lebih objek, pristiwa, ide, masalah, atau situasi. Dalam membandingkan bukan hanya mencari persamaan dan perbedaan, membandingkan juga melibatkan proses menentukan keterkaitan antara dua atau lebih objek, pristiwa, atau ide yang disuguhkan. Membahasakan tabel juga dapat diartikan dengan menafsirkan. Menurut Anderson dan Krathwohl (2010:106) menafsisrkan berarti dapat mengubah informasi dari satu bentuk ke bentuk yang lain. Berdasarkan analisis data, dapat disimpulkan bahwa kemampuan siswa laki-laki dalam mengerjakan tes membandingkan dua teks termasuk pada kategori kurang. Sebagian besar siswa laki-laki mendapatkan skor dibawah 5 dari skor maksimal 23. Sebagian siswa telah menyampaikan persamaan dan perbedaan dari kedua teks, akan tetapi masih banyak siswa laki-laki yang tidak menuliskan persamaan dan perbedaan secara lengkap. Hal ini disebabkan karena siswa laki-laki cenderung bercanda dengan teman lain saat mengerjakan dan juga siswa laki-laki cenderung malas untuk membaca. Untuk siswa perempuan dapat disimpulkan bahwa kemampuan dalam mengerjakan tes membandingkan dua teks termasuk pada kategori baik. Sebagian siswa perempuan mendapatkan skor 16?21 dari skor maksimal 23. Dalam menyampiakan persamaan dan perbedaan kedua teks siswa perempuan sudah lengkap, akan tetapi ada beberapa siswa yang tidak menuliskan persamaan dan perbedaan kedua teks. Hal ini disebabkan karena siswa laki-laki dan siswa perempuan yang tidak menuliskan persamaan dan perbedaan kedua teks secara lengkap, karena siswa laki-laki dan siswa perempuan tidak membaca dua teks dengan teliti. Siswa laki-laki dan prempuan cenderung tidak dapat menemukan perbedaan dari dua teks tersebut, karena kurangnya ketelitian saat membaca dan juga waktu yang disediakan terbatas.

Perbandingan Tingkat Kemampuan Literasi Siswa Laki-Laki dan Perempuan pada Kegiatan Memberikan Solusi

Kegiatan memberikan solusi merupakan kegiatan yang digunakan untuk mengukur kemampuan literasi level tinggi. Menurut taksonomi Bloom, kegiatan memberikan solusi termasuk dalam kategori mengkritik. Menurut Anderson dan Krathwohl (2010:127) mengkritik melibatkan proses penilaian suatu produk atau proses berdasarkan kreteria dan standar eksternal. Berdasarkan hasil analisis data, sebagian besar siswa laki-laki dan siswa perempuan sudah mulai memberikan solusi yang sesuai dengan permasalahan yang terdapat dalam teks. Akan tetapi, solusi yang disampaikan kurang maksimal. Pada siswa laki-laki solusi yang diberikan cenerung melebar dari permasalahan yang terjadi pada teks. Permasalahan yang sama terjadi pada siswa laki-laki dan siswa perempuan yaitu beberapa siswa hanya menuliskan satu kalimat pada teks baru yang mereka buat. Bahkan ada siswa laki-laki dan siswa perempuan yang tidak menuliskan solusi atau saran, mereka hanya menuliskan permasalhan dan penyebab yang terdapat pada teks. Terdapat pula siswalaki-laki dan perempuan yang tidak mengisi lembar jawaban. Hal ini terjadi karena kurangnya minat baca pada siswa. Hal ini akan berpengaruh pada proses berpikir dan menulis. Martutik (2010:7) menyimpulkan bahwa proses membaca pada hakikatnya adalah proses berpikir dan bernalar. Oleh karena itu, pembelajaran membaca harus diarahkan pada proses berpikir dan bernalar.

Perbandingan Tingkat Kemampuan Literasi Siswa Laki-Laki dan Perempuan pada Kegiatan Membuat Tampilan Visual

Kegiatan membuat tampilan visual merupakan kegiatan yang digunakan untuk mengukur kemampuan literasi level mahir. Menurut taksonomi Bloom, kegiatan membuat tampilan visual termasuk dalam kategori menafsirkan. Anderson dan Krathwohl (2010:106) menjelaskan bahwa menafsirkan terjadi ketika siswa dapat mengubah informasi dari satu bentuk ke bentuk lain. Dalam mengukur kemampuan membuat tampilan visual siswa laki-laki dan siswa perempuan kelas VII SMP Negeri 4 Malang teks yang digunakan yaitu teks narasi yang berjudul Pertumbuhan Penduduk Indonesia dari Masa Penjajahan Belanda. Siswa laki-laki dan siswa perempuan dituntut untuk membuat tabel dari teks bacaan tersebut dan membuat teks baru berupa penjelasan dari tabel yang dibuat. Peneliti sudah mencantumkan petunjuk pengerjaan dengan bahasa yang komunikatif. Dengan menggunakan bahasa yang mudah dipahami siswa dan tidak menimbulkan penafsiran yang berbeda.

Dari hasil kerja siswa laki-laki dan siswa perempuan permasalahan yang muncul hampir sama. Siswa laki-laki dan siswa perempuan banyak yang hanya membuat tabel tanpa membuat teks penjelas dari tabel yang mereka buat. Selain itu, siswa laki-laki dan siswa perempuan menuliskan teks penjelas dari tabel yang mereka buat sama persis dengan kata-kata teks asal. Hal ini dapat disebabkan karena kurangnya minat baca pada siswa. Siswa belum mempunyai kebiasaan untuk membaca kritis, sehingga akan berpengaruh terhadap kemampuan menulis siswa. Dari beberapa penjelasan di atas dapat diketahui permasalahan yang menyebabkan terdahnya tes membuat tampilan visual. Hal ini disebabkan karena pembelajaran membaca, berpikir, dan menulis tidak seimbang. Penyebab yang lainnya, yaitu waktu yang disediakan untuk mengerjakan tidak mencukupi.

Perbandingan Tingkat Kemampuan Literasi Siswa Laki-Laki dan Perempuan Kelas VII SMP Negeri 4 Malang Berdasarkan Skor Total

Berdasarkan temuan penelitian, diketahui bahwa rata-rata skor total siswa perempuan kelas VII SMP Negeri 4 Malang lebih tinggi daripada siswa laki-laki kelas VII SMP Negeri 4 Malang. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh peneliti, siswa laki-laki cenderung lebih banyak bergurau dengan teman-temannya daripada mengerjakan tes yang diberikan. Sedangkan untuk siswa perempuan lebih serius dalam mengerjakan tes. Dengan diberikannya jumlah waktu pengerjaan, siswa perempuan lebih cepat dalam mengerjakan tes daripada siswa laki-laki. Dan untuk hasil yang diperoleh siswa perempuan lebih tinggi dari siswa laki-laki. Untuk skor total literasi yang diperoleh siswa laki-laki dan siswa perempuan, skor total literasi siswa laki-laki lebih rendah dari skor total yang diperoleh siswa perempuan, yakni dengan presentase pencapaian 48,78%. Siswa laki-laki cenderung lebih banyak bergurau dengan teman-temannya yang lain. Siswa laki-laki juga lebih banyak bicara saat mengerjakan tes, selain itu saat mengerjakan tes siswa laki-laki lebih banyak bergerak dari meja satu ke meja lainnya. Secara tidak langsung, hal ini juga mempengaruhi pada hasil mengerjakan tes literasi siswa.

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dikemukakan lima simpulan. Pertama, tingkat kemampuan literasi siswa laki-laki dan siswa perempuan kelas VII SMP Negeri 4 Malang dalam mengerjakan tes literasi level rendah yang diukur dengan kegiatan merangkum termasuk dalam kategori baik. Kedua, tingkat kemampuan literasi siswa laki-laki dalam mengerjakan tes membandingkan dua teks dan membahasakan tabel termasuk dalam kategori menengah ke bawah sedangkan kemampuan literasi siswa perempuan dalam mengerjakan tes membandingkan dua teks dan membahasakan tabel termasuk dalam kategori menengah ke atas. Ketiga, tingkat kemampuan literasi siswa laki-laki dalam mengerjakan tes literasi level tinggi yang diukur dengan kegiatan memberikan solusi termasuk dalam kategori kurang sedangkan kemampuan literasi siswa perempuan termasuk dalam kategori menengah ke bawah. Keempat, tidak terdapat perbedaan tingkat kemampuan literasi siswa laki-laki dan siswa perempuan dalam mengerjakan tes literasi level mahir yang diukur dengan kegiatan membuat tampilan visual termasuk dalam kategori kurang. Kelima, tingkat kemampuan literasi siswa laki-laki dan siswa perempuan kelas VII SMP Negeri 4 Malang berdasarkan skor total, yaitu  kemampuan literasi siswa laki-laki berdasarkan skor total tes literasi termasuk dalam kategori menengah ke bawah sedangkan siswa perempuan termasuk dalam kategori menengah ke atas.

Saran

Berdasarkan simpulan hasil penelitian dapat dikemukakan beberapa saran untuk pendidik sebagai berikut. Pertama, dengan ada perbedaan tingkat kemampuan literasi antara siswa laki-laki dan perempuan bahwa siswa perempuan lebih unggul dibandingkan siswa laki-laki, guru dapat memberikan perhatian lebih pada siswa laki-laki dalam kegiatan pembelajaran. Dua,guru dapat terus memotivasi siswa perempuan untuk lebih meningkat kemampuan literasi yang dimiliki. Tiga, karena kemampuan memberikan solusi dan membuat tampilan visual masih rendah guru dapat meningkatkan kemampuan tersebut dengan memasukkan kegitan tersebut di sela-sela pembelajaran. Keempat, dengan adanya perbedaan tingkat kemampuan literasi anatara siswa laki-laki dan perempuan guru diharapkan membuat strategi dalam pola mengajar yang nantinya mampu menyamakan tingkat kemampuan literasi siswa laki-laki dan siswa perempuan. 

 

 

Daftar Rujukan

Anderson, W.L. dan Krathwohl, R. D. 2010. Kwrangka Landasan untuk Pembelajaran, Pengajaran, dan Asesmen. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Martutik. 2013. Membaca Intensif. Malang: Surya Pena Gemilang.

Mullis, I. V. S., Martin, M.O., Foy, P., & Drucker, K.T. 2015. Assesment Framework. Boston: TIMSS & PIRLS International Study Center, Lynch School of Education, Boston College and International Association for the Evaluation of Education Achievement (IEA).

Nurchasanah. 2015. Membaca: Teks Ilmiah dan Nonilmiah. Malang: Universitas Negeri Malang.

Nurhadi. 2009. Bagaimana Menulis. Malang: Unversitas Negeri Malang.

OECD. 2010., PISA 2009 Results: What Students Know and Can Do-Student Performance in Reading, Mathematics and Science (Volume 1). Paris: OECD Publishing.

Suyono, 2009. Pembelajaran Efektif dan Produktif Berbasis Literasi: Analisis Konteks, Prinsip, dan Wujud Alternatif Strategi Implementasinya di Sekolah. Jurnal Bahasa dan Seni, 37 (2):203-217.

Suyono. 2011. Pembelajaran Efektif dan Produktif Berbasis Literasi: Analisis, Konteks, Prinsip, dan Wujud Alternatif Strategi Implementasinya di Sekolah. Malang: Universitas Negeri Malang.

Santrock, John W. 2014. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Salemba Humanika.

Tarigan, H. G. 1979. Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.

1 Jeni Erlinda adalah Mahasiswa Universitas Negeri Malang.

 Artikel ini diangkat dari skripsi Sarjana Pendidikan, Program Sarjana Universitas Negeri Malang, 2017. 

2 Endah Tri Priyatni adalah dosen Jurusan Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang.